January 28, 2016

Jika Dia Memang Sahabatmu



Terima kasih telah memperkenalkan aku dengan dia, perempuan yang kamu sebut sebagai sahabatmu.
Senang rasanya aku bisa mengenal perempuan yang juga mengenal baik dirimu. Terima kasih karena kamu benar-benar mempertemukan aku dengan perempuan yang dulu hanya kutahu namanya lewat kotak masuk pesan di ponselmu.

Awalnya aku merasa canggung berada diantara kalian, namun diam-diam aku semakin memperhatikan kalian. Jujur saja, aku tidak pernah bersahabat dengan lawan jenis jadi aku tidak tahu persahabatan seperti apa yang sedang dan telah kalian jalani selama beberapa tahun ini. Sebagai orang yang baru saja hadir, tentu aku harus mulai membiasakan diri.

Aku melihatnya berbicara denganmu. Kalian saling bertukar pandang. Ah, aku sedikit cemas lalu tersenyum masam menyesali kecemasanku sendiri. Apa yang harus ditakutkan dari hubungan kalian berdua? Bukankah kalian sudah lama saling mengenal dan apabila ada cinta, status sahabat pun bisa berubah sejak dulu. Aku berusaha menghibur diri.

Aku mendengar kamu bercerita sehabis mengantarnya pulang. Ah, lagi-lagi aku merasakan cemas. Terlebih saat kamu mengatakan kalau esok pagi pun masih harus menjemputnya. Sementara aku yang sudah jelas-jelas kekasihmu, kamu biarkan pergi dan pulang sendiri. Ada kecewa yang tak terbantahkan dalam hatiku. Apakah seistimewa itu persahabatan diantara kalian? Aku mulai meragukan arti hadirku dalam hidupmu.

Aku berusaha untuk selalu berada di sampingmu agar bisa menepis keraguan yang mulai menyiksa hatiku. Tetap dalam diam aku berada diantara kalian, dia pun seperti tak ada niatan memulai suatu obrolan denganku. Kalian asyik berbicara seolah lupa ada aku disana. Ah, ini bukan lagi sekedar cemas. Ya, aku takut kehilangan kamu.

Hingga yang kutakutkan pun terjadi. Di depan mataku dia merangkul bahumu. Di depan mataku dia menggandeng tanganmu. Apakah seorang sahabat wajar melakukan itu? Persahabatan macam apa ini? Atau mungkin aku seperti angin lalu yang tak dirasakan kehadirannya. Aku benar-benar patah hati.

Aku dan kamu pada akhirnya selalu terhenti pada sebuah pertengkaran dimana dia selalu menjadi pokok permasalahannya. Jika dia memang sahabatmu, tidak bisakah sedikit saja menghargai perasaanku? Jika dia memang sahabatmu, tolong katakan padanya Jangan lagi berlebihan padaku, aku telah memiliki kekasih dan aku mencintainya. 

Bisakah kau lakukan itu?
Baca selengkapnya

January 7, 2016

Siapa Bilang Perpisahan Itu Menyakitkan?

Siapa Bilang Perpisahan Itu Menyakitkan?


http://favim.com/orig/201107/01/ballons-balloons-colors-cute-girl-photography-Favim.com-89864.jpg

Percayalah, ketika Tuhan mengambil seseorang yang sangat kamu cintai, maka Ia pun telah menyiapkan seseorang lain yang tentunya lebih baik. Sebab hanya Tuhan yang tahu sosok yang kamu butuhkan, bukan sekedar kamu inginkan. 


Apa yang lebih menyakitkan daripada putus setelah bertahun-tahun pacaran?

Memang bukanlah hal yang mudah ketika akhirnya kamu memutuskan untuk berpisah dengan orang yang selama beberapa tahun ini kamu sayangi. Tentu nggak mudah buat kamu melupakan semua kenangan yang pernah terjadi diantara kalian. Atau bahkan kamu nggak bisa melupakan semuanya. Tenang... bukan sepenuhnya kesalahanmu kalau pada akhirnya segala ingatan tentang dia masih tersimpan rapi di dalam hati dan juga pikiranmu. Pada awalnya kamu akan berpikir bahwa melupakan sosoknya adalah hal yang paling mustahil, tetapi seiring berjalannya waktu kamu pun akan dengan sendiri melupakannya. Dengan tanpa usaha keras untuk melupakannya. Begitu juga luka hatimu. Meskipun mungkin butuh waktu yang nggak sebentar, pada akhirnya hatimu juga akan kembali menemukan cintanya. Putus setelah bertahun-tahun pacaran adalah lebih baik dari pada memutuskan menikah dengan orang yang telah lama dipacari lalu sekejap bercerai begitu saja.

Bukankah akan terasa menyakitkan ketika melihat dia sudah memiliki yang baru?

Setelah berpisah dan nggak lagi menjalin hubungan denganmu, bukan salahnya jika hatinya lebih dulu menemukan kecocokan dengan sosok yang baru. Dia bukan lagi milikmu dan sudah seharusnya kamu nggak bersikap seolah dia masih milikmu. Dia memilih orang lain untuk menemani kehidupannya, bukankah itu merupakan hal yang normal? Kalau memang sudah berniat memutuskan hubungan, janganlah lantas membuatmu terus hidup dalam dunia fantasi dimana dia masih menjadi milikmu. Sadarlah... kalau dia pun berhak jatuh cinta lagi, begitu pula hatimu. Masalah siapa yang lebih dulu menemukan cinta yang baru, sebaiknya jangan dibesar-besarkan. Toh hidupnya nggak akan berhenti setelah kalian memutuskan untuk berpisah.

Ketika Dia Akhirnya Menikah Dengan Orang Lain

Artinya kalian belum berjodoh. Bukan ironi! Seperti yang sering orang katakan, Kalau Jodoh Nggak Akan Kemana. Kalau memang nggak jodoh ya mau didekatkan kayak gimana juga nggak bakal menikah, menikah pun mungkin nggak akan bertahan lama. Meskipun sudah bertahun-tahun dia berpacaran sama kamu, kalau Tuhan mengatakan dia bukan jodohmu, kamu bisa apa? Menentang takdir Tuhan? Awas kualat loh.

Apakah perpisahan masih terdengar menyakitkan? Cobalah tengok ke belakang. Sudah seberapa jauh kakimu melangkah? Apakah kamu masih ingin berpijak di tempat yang sama sementara dunia terus berputar? Tidak ada yang menyakitkan kecuali hatimu sendiri yang menjadikannya sebuah penyakit. Biarkan saja perpisahan itu terjadi, hingga waktu yang akan membawamu bertemu dengan orang-orang baru yang membuatmu melupakannya.
Baca selengkapnya