October 18, 2015

Kemana Setelah Ini?

Sejujurnya, saya lebih menyukai tekanan untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah daripada berjuang mencari kerja. Satu demi satu surat lamaran pekerjaan sudah dibuat dan dikirim ke beberapa perusahaan juga bank-bank nasional dan multinasional. Ya, sejujurnya saya belum benar-benar tahu tujuan hidup saya.

Inas Twinda Puspita, S.Pd
Menjadi seorang sarjana pendidikan nyatanya tidak membuat saya tertarik untuk menjadi seorang guru. Karena menjadi guru bukanlah sesuatu yang mudah. Saya sudah merasakannya sendiri ketika harus menyelesaikan Program Pelatihan Pengajaran di salah satu SMA Negeri di Surabaya. Menjadi guru tidak sekedar mentrasnfer ilmu, tetapi juga mendidik dan memberi contoh yang baik bagi murid-muridnya. Mengajar itu membutuhkan kreatifitas yang tinggi, dimana seorang guru harus tahu kondisi psikologis muridnya sebelum menyampaikan materi. Dengan bayaran yang tidak seberapa tentunya juga menjadi alasan saya tidak ingin menjadi seorang guru. Matre? Tidak. Saya hanya berpikir realistis.






Saya mungkin memanglah seorang pemimpi yang ulung. Pernah suatu ketika saya ingin menjadi seorang Pramugari, apalah daya mata minus sekaligus silinder ini membuat saya gagal masuk sekolah pramugari. Juga ada mimpi untuk menjadi seorang Ahli Forensik, haha, namun akhirnya luntur seketika karena saya takut melihat luka dan darah, apalagi mayat. Terakhir saya masih sering bermimpi untuk menjadi seorang penulis skenario film, terlalu banyak drama dalam hidup saya dan mungkin ini adalah cita-cita yang pas untuk diraih. Jadi apapun nantinya, saya hanya ingin membuat mereka bahagia dan bangga memiliki saya dalam hidup mereka.

My Everything ^_^

Baca selengkapnya

October 8, 2015

Ketidaksempurnaan Yang Sempurna


Ini tentang menjadi manusia. Ciptaan Tuhan yang paling sempurna tetapi tetap memiliki ketidaksempurnaan yang sempurna. Meski berusaha menjadi manusia sempurna yang dicintai banyak orang, nyatanya pembenci itu tetap saja ada. Sebab apa yang telah kita lakukan akan memunculkan banyak persepsi dari orang lain.

Tentang menjadi diri sendiri. Tidak pernah berpura-pura untuk meniru ataupun menjiplak milik orang lain, karena toh masing-masing manusia mempunyai jalan hidupnya sendiri. Faktanya, tetap saja ada yang mengatakan bahwa kita adalah meniru. Melakukan apa yang pernah orang lain lakukan, memakai apa yang pernah orang lain pakai, dan mengatakan apa yang pernah dikatakan orang lain. Bukankah pada akhirnya semua manusia adalah peniru? Lantas mengapa kamu merasa sempurna sehingga berpikir bahwa orang lain meniru dirimu?

Tentang menjadi musuh dunia ketika berusaha membenarkan apa yang tidak benar. Ya, ini sering terjadi dalam dunia kita. Dimana kesalahan selalu menjadi benar ketika banyak pihak yang membenarkan. Sebaliknya, kebenaran bisa terlihat salah ketika banyak pihak berusaha menutupi kesalahannya.

Juga tentang usaha yang sia-sia. Sekeras apapun melakukan hal-hal baik, nampaknya menjadi orang yang benar-benar baik ternyata tidaklah mudah. Semulia apapun jiwa, ketika apa yang dilakukan tidaklah baik bagi orang lain maka sia-sia namanya.

Apalagi tentang keutamaan niat. Karena hanya Tuhan yang mampu melihat niat manusia, sementara manusia hanya bisa menerka apakah kebaikan yang dilakukan orang lain benar-benar baik atau sekedar ingin terlihat baik.

Ini tentang menjadi manusia yang tidak akan pernah bisa sempurna. Dan ini juga tentang kamu. Jadi jangan pernah menuding orang lain lebih buruk, karena dirimu juga tidaklah sempurna.
Baca selengkapnya