June 29, 2014

Semarang - Day 2

Sebelumnya...

            Hari kedua di kota Semarang  diawali dengan sarapan pagi di hotel. Cukup kaget melihat pilihan menu makan pagi di Hotel Whiz, ada nasi pecel, nasi rawon dan juga nasi campur. Turis-turis Taiwan agak terkejut melihat kuah rawon yang hitam legam, namun setelah aku ceritakan asal warna hitam kuahnya, salah satu diantara mereka pun tertarik mencoba. Sedangkan yang lain lebih memilih nasi pecel dan nasi campur sebagai hidangan sarapan pagi mereka.
            Setelah perut kenyang, kami segera menuju tempat tujuan wisata hari ini, yaitu Klenteng
Klenteng Sam Poo Kong
Agung Sam Poo Kong
. Kalau berwisata ke Semarang udah pasti dooong pengen dateng ke tempat ngetop ini. Klenteng Agung Sam Poo Kong ini adalah sebuah kompleks klenteng atau kuil yang dibangun oleh Laksamana Zheng He (Cheng Ho) dari Cina di tahun 1400an. Berarti kompleks klenteng ini umurnya udah 600 tahunan! Klenteng ini ngetop banget karena nggak cuma ada satu klenteng di dalamnya, dan Laksamana Zheng he ini juga ngetop karena dia termasuk salah satu penganut Muslim yang membantu penyebaran agama Islam. Ada satu aula klenteng yang bisa kita masukin. Tapi untuk klenteng-klentengnya sendiri – namanya juga tempat peribadatan – nggak bisa sembarangan kita masuk. Kalau nggak untuk bener-bener sembahyang, pengunjung musti bayar untuk masuk ke klenteng dengan syarat nggak foto-foto dan nggak mengganggu yang sembahyang.
Gereja Blenduk
Narsis dulu yee...
           Perjalanan kami lanjutkan menuju kawasan kota lama Semarang. Nah… Kali ini asik banget nih jalan-jalannya. Kawasan kota tua ini benar-benar terawat dan bersih, selain itu juga sepi. Jadi kami nyaman berjalan kaki kesana kemari melihat-lihat bangunan-bangunan jaman dulu, yang sebagian masih dipergunakan sebagai rumah penduduk dan gedung perkantoran. Ada juga toko barang antik di pinggir jalan kota tua. Dan tentu saja, ikon kota tua Semarang yang masih berdiri dengan megahnya, yaitu Gereja Blenduk, alias gereja Kristen Imanuel. Di samping gereja ini ada taman yang memang dibuat untuk beristirahat dan rekreasi, jadi kawasan ini kesannya asri sekali. Ada beberapa penjual minuman dan juga jasa pengantar keliling kota tua dengan skuter yang ramah dan menceritakan banyak tempat-tempat bersejarah di Semarang. Rasanya menyenangkan sekali jalan-jalan di tempat ini, karena menurut aku sih jauh lebih terpelihara dibandingkan kawasan kota tua yang ada di kota-kota lain. Jalan kaki pun nggak kerasa capenya kok. Tapi mungkin lain kali seru juga yah kalo keliling-keliling naik skuter atau becak, hehehe.

            Setelah puas menikmati kawasan kota tua Semarang, kami menuju ke Lawang Sewu Semarang. Kalo kemarin-kemarin aku agak ragu untuk masuk ke Lawang Sewu karena banyak
Halaman depan Lawang Sewu
cerita-cerita seremnya, tapi setelah melihat Lawang Sewu yang sekarang aku justru jadi tertarik. Karena gedungnya sudah direnovasi sebagian dan tampak sudah tertata rapi. Kami masuk ke kompleks Lawang Sewu yang sekarang udah bersih dan tertata rapi. Setelah beli tiket masuk di loket, kami ditemani oleh seorang pemandu yang ramah, namanya mbak Icha kalo ga salah (eh bener kan ya? Kalo salah ya maap ya hehehe). Mbak pemandu ini memandu kami masuk ke dalam kompleks Lawang Sewu sambil menjelaskan sejarah dan perjalanan restorasi gedung milik PT. Kereta Api ini.
Di depan salah satu pintu di Lawang Sewu
Jangan mikir bakal serem ya, karena sebenernya Lawang Sewu ini nggak horor. Justru banyak cerita-cerita sejarah dan tentang perkeretaapian yang menarik untuk disimak. Buat turis-turis Taiwan, mereka cukup puas dengan memotret detil-detil bangunan yang masih asli dan yang sudah direstorasi ini.

Gerbong kereta api di halaman samping Lawang Sewu










  





          Puas berkeliling Lawang Sewu yang bersejarah itu, sekarang jadi laper deh, hehehe. Ya udah jam makan siang juga sih. Lagi-lagi saya meminta saran Pak Nyoto untuk merekomendasikan menu makan siang kami kali ini. Daaaan akhirnya beliau membawa kami ke Soto Bokoran.
Soto Bokoran Yummyy...
Yup, warung soto ini emang berada di Jalan Bokoran, deket banget sama tempat krupuk Mother Chan’s kemarin, hehehe. Memang hanya warung soto biasa, tapiiii…. Begitu kami sampai di sana, ngantrinya udah kaya ngantri sembako. Bejubel! Mobil-mobil berderet di sepanjang jalan kecil ini demi mengantri soto khas Semarang ini. Aku dan turis-turis Taiwan terpaksa ngantri dulu sekitar 10-15 menit nunggu ada bangku kosong. Warung ini kecil tapi lumayan banyak tempat duduk di dalamnya, tapi tetep aja semuanya penuuhh banget. Nggak sia-sia sih ngantri soto Bokoran ini. Emang enak banget sih! Dan khasnya soto Semarang ini adalah makanan pelengkap soto yaitu gorengan seperti tahu, tempe, dan perkedel yang disiapkan di wadah-wadah terpisah. Bisa kalap comotin semuanya hehehe…
            Usai makan siang kami melanjutkan perjalanan wisata kami menuju kawasan jalan Pandanaran untuk membeli oleh-oleh khas Semarang, apa lagi kalo bukan bandeng presto. Segala jenis bandeng ada di situ. Banyak oleh-oleh lain juga sih semacam wingko babat atau keripik-keripik.
Lezatnya Lunpia Mataram
Setelah itu, kami juga ke Lunpia Mataram yang di deket toko roti Sanitas untuk beli lumpia. Konon katanya lumpia di situ yang paling enak, walopun di sebelah-sebelahnya juga berjejer toko lumpia. Yah, nggak lengkap kalo ke Semarang tanpa beli lumpia Semarang kan, hehehe. Dan yang penting juga kami beli kue Moaci Gemini, kue moaci khas Semarang yang dijual di Jalan Kentangan Barat. Moaci – atau moci – ini wajib kamu beli deh kalau ke Semarang. Dijamin ketagihan, hehehehe.
      Siang menjelang sore Pak Nyoto mengusulkan untuk ke Klenteng Gang Lombok, alias Klenteng Tay Kak Sie. Ini juga salah satu peninggalan bersejarah kota Semarang, selain klenteng Sam Poo Kong. Letaknya di Gang Lombok, yang juga salah satu lokasi pecinan tua di Semarang. Walopun klenteng ini lebih kecil daripada Sam Poo Kong, tapi cerita sejarahnya nggak kalah serunya. dan bangunannya pun nggak kalah cantiknya. Di depan klenteng ini ada replika kapal yang digunakan oleh Laksamana Zheng He saat beliau terdampar di Semarang dulu.
Klenteng Tay Kak Sie
Di sepanjang jalan Gang Lombok menuju ke klenteng ini, berjajar beberapa warung makan yang juga terkenal. Ada warung Lumpia Semarang gang Lombok yang konon salah satu warung lumpia tertua di kota ini, ada warung mie Siang Kie, dan warung es buah gang Lombok. Berhubung kita baru aja makan siang jadi masih kenyang, jadi kita memutuskan untuk ngadem makan es buah aja. Eits jangan salah, walopun warung es buah ini mungil banget, tapi ngetop banget loh. Di dalam warung kecil ini ada beberapa foto-foto artis yang pernah mengunjungi warung ini bersama ibu pemilik warung. Karena waktu itu panas, kami jadi haus banget dan cepet banget ngabisin es buahnya, hehehe.
Kami memutuskan untuk kembali ke hotel pada pukul 5 sore untuk beristirahat dan mandi. Sejak pagi kami sudah berkeliling kota Semarang dan badan pun terasa gerah. Pak Nyoto akan menjemput kami pada pukul 8 malam jadi cukuplah waktu untuk beristirahat dan membersihkan badan. Aku juga memanfaatkan waktu untuk berkemas, sebab pesawat kami besok akan terbang landas pukul 1 siang.
Malam ini Pak Nyoto mengajak kami untuk berjalan-jalan di kawasan Simpang Lima. Sebenarnya sejak kemarin kami sudah melintasi kawasan ini, akan tetapi simpang lima di malam hari sangat jauh berbeda dengan seperti yang kami lewati siang tadi. Banyak berjajar tenda-tenda penjual makanan khas Semarang bisa kami temukan disini. Trotoar yang pada siang hari di gunakan untuk para pejalan kaki, disulap seketika pada malam hari untuk di jadikan tenda-tenda yang menampung para penjajah yang menjual beraneka ragam makanan, mulai dari yang khas Semarang hingga masakan khas nusantara lainnya.
Kuliner Simpang Lima

Kami dapat bercengkerama bersama sambil menikmati aneka makanan yang ditawarkan mulai dari nasi pecel, nasi ayam dan berbagai makanan olahan berbahan dasar daging kambing. Suasana malam lengkap dengan lampu-lampu kota yang menerangi menambah suasana makan kami menjadi nikmat. Kawasan Simpang Lima memang bisa menjadi pilihan tepat bagi pecinta kuliner yang ingin memanjakan lidah dengan aneka masakan nusantara dan mencari suasana santai dan tenang untuk santai bareng keluarga atau sekedar kumpul bersama teman-teman.

Baca selengkapnya

June 28, 2014

Tips aman dan nyaman bagi cewek backpacker-an

Tips aman dan nyaman bagi cewek backpacker-an

      Tren jalan-jalan saat ini sedang mewabah. Bukan hanya jalan-jalan di dalam kota, bahkan sampai ke luar kota dan luar negri. Salah satu gaya jalan-jalan yang cukup menantang di kalangan anak muda adalah gaya backpacker.
      Backpacker menjadi pilihan banyak orang dalam melakukan perjalanan wisata yang mudah dan sederhana. Perjalanan menjadi lebih fleksibel dan santai. Istilah backpacker sendiri muncul dari kata backpack atau ransel, tas yang mudah dibawa kemana-mana dan muat banyak barang. Mungkin kemudahan dalam membawa backpack inilah yang memunculkan istilah backpacker, yaitu jalan-jalan dengan cara yang mudah dan mandiri.
     Backpacker dalam arti sesungguhnya merupakan wisawatan yang ingin berlibur dengan budget terbatas dengan hanya membawa satu tas ransel dan mengandalkan lingkungan sekitar. Saat ini, backpacker style tidak hanya dimiliki oleh kaum pria. Para wanita pun ingin tampil eksis mensejajarkan diri dengan para pria. Namun perlu diingat bagi para wanita, wanita lebih rawan mengalami tindak kriminal saat jalan-jalan. Untuk itu perlu persiapan matang ketika ingin melakukan sebuah perjalanan.
      Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum backpacker-an agar aman dan nyaman dalam berpetualangan.
1. Tentukan Tujuan
Ini adalah langkah awal ketika ingin pergi berpetualang. Dengan mengetahui lokasi tujuan, kita bisa menentukan perencanaan yang baik. Ada orang yang memiliki gaya travelling dengan memilih lokasi secara acak, yang penting berangkat dulu dan baru di lokasi menentukan mau kemana lagi selanjutnya. Ini terlalu beresiko untuk wanita, apalagi bagi pemula.
2. Dokumen Perjalanan
Dokumen seperti identitas diri atau paspor dipersiapkan dengan baik. Gunakan sabuk atau tempat penyimpanan uang khusus yang dipakai di balik pakaian. Simpan uang tunai dan paspor atau dokumen penting lainnya di tempat itu. Ada beberapa backpacker wanita menyimpan uang tunai di balik kaus kaki, sehingga dalam keadaan genting sekalipun masih memiliki uang cadangan.
3. Transportasi
Ketika memesan moda transportasi, usahakan jadwal tiba di lokasi yang dituju pagi atau siang. Ini untuk memudahkan dan memberi rasa nyaman karena suasana masih terang. Jika tiba malam hari, cenderung lebih sulit untuk beradaptasi dengan kondisi sekitar.
Selama di perjalanan, hindari situasi ketika hanya berdua saja dengan lawan jenis. Usahakan mencari teman dengan sesama wanita, sehingga bisa sharing biaya perjalanan dan menjadi teman ngobrol selama perjalanan.
4. Penginapan
Setelah memesan moda transportasi, langkah selanjutnya adalah cari penginapan. Ini sangat penting untuk memastikan sudah ada tempat untuk bermalam, paling tidak untuk hari pertama.
Bagi kaum pria, lebih mudah mencari penginapan. Berbeda dengan wanita yang perlu memperhatikan faktor keamanan, kebersihan dan sudah barang tentu yang sesuai pula dengan kantong.
5. Tersesat
Jika tersesat di jalan, jangan biasakan untuk membuka peta di jalan. Ini menunjukan bahwa kita adalah seorang turis yang tersasar. Carilah tempat yang tidak terbuka oleh umum dan dengan tenang bukalah peta. Jika tidak mengetahui arah jalan, lebih baik tanyakan langsung kepada polisi.
6. Tas Ransel
Bawalah barang-barang yang dapat dengan mudah dibawa dalam sekali angkut. Saat ini banyak dijual model tas ransel yang bisa digunakan untuk backpacker-an dengan kapasitas besar. Hindari terlalu banyak tas yang akan merepotkan. Bawa juga ransel atau tas kecil untuk membawa barang-barang yang diperlukan pada hari itu, dan tinggalkan sisanya di penginapan.
7. Pakaian
Ini adalah hal yang sering terlupakan oleh wanita selama melakukan petualngan. Cara berpakaian seharusnya bisa dibedakan antara perjalanan untuk bisnis atau jalan-jalan. Apalagi solo backpacker atau berpetualangan sendirian. Untuk menghindari hal-hal tak diinginkan, berpakaianlah seperti layaknya para perempuan sekitar selama perjalanan.
Misalnya jika berpetualang ke daerah Timur Tengah dan negara Asia lainnya, kenakan pakaian berlengan panjang, dengan celana ataupun rok yang menutupi seluruh bagian kaki. Jangan sampai kita menggunakan pakaian yang mencolok dan tidak sesuai dengan norma masyarakat sekitar.
Sebaiknya, sebelum berangkat, lakukanlah penelitian kecil-kecilan mengenai budaya lokal dan bahasa tubuh mereka. Bersikaplah bersahabat kepada sesama pelancong dan tentunya kepada orang lokal. Bertemanlah dengan mereka, khususnya dengan penduduk lokal yang sama-sama perempuan. Selain kita bisa banyak mendapat cerita dari mereka, tentunya bisa mendapat makan siang gratis, bahkan penginapan gratis di rumah mereka ;)
Jangan kenakan terlalu banyak perhiasan, atau mengeluarkan peralatan teknologi seperti telepon genggam di tempat umum. Karena ini akan mengundang orang yang berniat jahat.
8. Keamanan/Pertahanan Diri
Jika mengalami tindak kejahatan, jangan segan untuk berteriak. Karena dengan berteriak akan mengundang perhatian orang sekitar untuk ingin tahu apa yang terjadi. Hal ini akan membantu dalam mencari jalan keluar masalah yang sedang dihadapi.
9. Berdoa, berdoa dan berdoa
Jangan lupa untuk berdoa sebelum berangkat, selama di perjalanan, dan ketika tiba di tempat tujuan. Pastikan juga untuk menunaikan sholat dimanapun kita berada, bepergian bukanlah alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Sang Pencipta keindahan dunia ini.



Baca selengkapnya

Semarang - Day 1



Kalau denger kata Semarang, apa yang terlintas di benak kamu? Kalau aku sih: makanan. Hahahaha…. Emang salah satu daya tarik semarang buat aku adalah makanannya sih. Enak-enaaakk. Apalagi buat lidah jawa kaya aku, hehehe. Ya emang nggak melulu tentang makanan, Semarang juga punya banyak hal yang menarik untuk dieksplor. Banyak yang ngelupain kota ini, soalnya turis-turis pasti bakal lebih inget tentang Jogja atau Solo kalo ngomongin daerah Jawa. Padahal Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah, punya segudang hal-hal menarik juga buat dikunjungi.
Dalam rangka menjalani profesi sebagai tour guide waktu itu ada segerombol turis asal Taiwan yang ingin mengunjungi kota Semarang. Aku lupa gimana ceritanya mereka bisa tahu sekelumit tentang kota Semarang tapi yang pasti karena mereka-lah aku bisa mendapat kesempatan untuk jalan-jalan gratis (meskipun sambil guiding) hehehe. Seperti biasanya, saya selaku guide harus mempersiapkan rincian perjalanan dengan matang sebelum hari keberangkatan, mulai dari tiket pesawat, hotel, dan tempat-tempat wisata apa saja yang hendak kami kunjungi selama disana.
Kami berangkat pada tanggal 12 Februari 2014 dengan menggunakan maskapai Air Asia, rute Surabaya-Semarang ditempuh dalam waktu kurang lebih 75 menit. Seperti biasanya, maskapai ini selalu on time dan tidak pernah mengecewakan konsumennya. Kami tinggal di Semarang selama 3 hari 2 malam dan menginap di Hotel Whiz Semarang. Hotel bintang 3 di tengan kota Semarang itu pun enggak mengecewakan kok. Ruang kamarnya bersih dan nyaman. Selain itu, fasilitas wifi-nya juga masih bisa digunakan di dalam masing-masing kamar. Kalau ditanya kekurangannya mungkin hanya pada kamar mandinya yang menurut saya terlalu sempit, hehe...
Jadiii, setibanya di Semarang kira-kira pukul 11.00 WIB dari Bandar Udara Internasional Ahmad Yani langsung cuuss menuju hotel Whiz yang hanya memakan waktu sekitar 25 menit perjalanan. Oh ya, kami menggunakan mobil yang sudah di sewa oleh kantor saya untuk digunakan berkeliling Semarang selama 3 hari. Saya ingat betul suasana jalan raya di kota Semarang tidaklah sepadat di Surabaya. Selain itu, kota Semarang cukup bersih dan asri sehingga saya langsung jatuh cinta pada kota ini.
Warung Gudeg Bu Lasmi
Setelah check in dan istirahat sejenak, saya mengajak 4 orang turis Taiwan itu untuk makan siang. Tempat yang kita tuju adalah Gudeg Abimanyu Bu Lasmi (rekomendasi dari Pak Nyoto, supir kami selama di Semarang). Kata Pak Nyoto, gudeg ini termasuk kuliner legendaris di Semarang. Pantes aja walaupun tempatnya kecil dan berada di jalan masuk gang pula, tempat makan ini nggak pernah sepi pembeli. Rasanya memang enak banget! Nggak seperti gudeg Jogja, gudeg Semarang nggak terlalu pekat dan kering. Jadi buat aku sih paass banget manis dan gurihnya.
Kemasan kerupuk Mother Chan's masih menggunakan ejaan lama
Setelah makan siang, kita mulai nyicil membeli oleh-oleh nih. Pertama, Pak Nyoto mengajak kita menuju ke jalan Bokoran buat membeli kerupuk udang Mother Chan’s.Kerupuk ini juga salah satu oleh-oleh legendaris nih. Tempatnya sih nggak kaya toko, lebih mirip rumahan. Ya memang kerupuk ini produksi rumahan sih, tapi emang enak dan jaminan mutu banget. Ibu-ibu pasti seneng banget nih kalo ke Mother Chan’s, bisa beli berapa bungkus kerupuk udang mentah yang siap digoreng di rumah nanti.
Selanjutnya pak Nyoto mengajak kita menuju Jalan Kemuning untuk membeli Pia Kemuning yang beken itu. Lagi-lagi tempatnya seperti rumah tua jaman dulu, bahkan kalau dari depan sih bakal keliatan plang dokter gigi (iya di sebelah rumah ini memang ada praktek dokter gigi). Tapi jangan salah, di sinilah pia beraneka rasa itu diproduksi dan dijual. Harganya nggak begitu mahal, enak, tahan lama, dan isinya bervariasi. Mulai dari rasa keju, kacang ijo, coklat, sampai isi daging babi.
Jajanan yang dijual selain Pia
Turis-turis Taiwan pun langsung kalap membeli Pia berkilo-kilo, hahaha. Aku sih sebenarnya nggak seberapa suka Pia, tapi berhubung teman-teman sudah sms untuk dibawakan oleh-oleh jadilah aku pun ikut membeli Pia meskipun tidak sebanyak yang dibeli turis-turis itu, hehe. Oya, tempat-tempat yang aku dan turis-turis Taiwan kunjungi selama di Semarang itu kebanyakan di daerah tengah kota, jadi semuanya deket-deket. Kalo naik mobil, baru jalan paling 5 menit eehh udah nyampe, hahahaha. Malah ada beberapa tempat yang kalo di mobil nyetel lagu, nggak nyampe satu lagu aja udah sampai. Hahaha. Untung kita pake mobil dan supir sewaan, jadi nggak pusing-pusing deh mikirin angkutan dan nyari jalan.
Abis makan siang dan berburu sedikit oleh-oleh, saatnya leyeh-leyeh sambil makan dessert nih. Nggak ada tempat yang lebih tepat selain ke Toko Oen. Toko Oen ini adalah restoran, ice cream palace dan pattiserie (toko kue) yang udah ada sejak jaman duluuuu banget gitu.
Oen’s Symphony alias es krim lima rasa
Letaknya di Jalan Pemuda. Bentuk tokonya masih seperti bangunan jadul, interiornya juga. Buat yang suka sama interior kuno dan bergaya antik, pasti demen banget deh ke Toko Oen. Berhubung kita udah kekenyangan makan di Gudeg Abimanyu tadi, jadi sekarang cuma pengen pesen es krim nya aja…. Duh es krimnya macem-macem, jadi musti nanya sama pelayannya biar tau apa aja. Aku suka banget sama es krim home made ini. Sebenernya pengen sih nyobain kue-kuenya, tapi perut udah nggak mampu dimasukin makanan lagi nih hehehe. Perutnya diistirahatkan dulu buat makan malam nanti deh.
Interior Toko Oen yang lega dan bergaya tempo doeloe ini nyaman banget
 Pukul 16.00 Pak Nyoto mengantarkan kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan mandi. Katanya, nanti malam kami bisa berjalan kaki menuju Crown Plaza yang letaknya berseberangan dengan hotel kami. Jadi, beliau tidak menjemput kami dan memberi kami jam bebas untuk wisata. Sebenarnya kalau seperti ini, aku yang jadi kebingungan karena biar bagaimana pun saat ini aku yang menjadi Guide untuk turis-turis itu -_- Tapi, nggak apalah toh mereka juga sudah terbiasa backpacking jadi aku tidak terbebani dengan harus menyediakan wisata ala selebritis Indonesia yang sesuatu itu, hahaha...
Baca selengkapnya

June 22, 2014

Singapore - Day 2

Sebelumnya...
Bugis Street Singapore

      Belum lengkap rasanya kalau ke Singapura tanpa mengunjungi surga belanja murah bagi para wisatawan; China Town, Bugis Street dan juga Little India. Barang-barang yang dijual di China Town dan Bugis Street sebenarnya hampir serupa, mulai dari gantungan kunci, kaos, sampai makanan dan minuman yang dibandrol dengan harga mulai dari 1SGD. Bagi yang pandai menawar, akan sangat menguntungkan tentunya sebab anda akan mendapat barang bagus dengan harga relatif lebih murah. Tetapi, teliti dulu yaa barang yang akan dibeli.
       Untuk masalah keamanan dan kebersihan, jangan khawatir sebab disini tidak seperti kebayakan pasar yang ada Indonesia. Anda tidak akan menemui bau pesing ataupun sampah-sampah plastik dan atau bekas minuman kaleng di sepanjang
China Town - Singapore
jalan. Walaupun di Bugis Street anda harus berpapasan dengan banyak orang dibeberapa titik, dijamin tidak akan kecopetan. Saya rasa kesadaran hukum masyarakat di Singapura jauh lebih tinggi daripada di Indonesia.
       Inilah yang juga menjadi faktor utama pendukung kemajuan pariwisata suatu Negara. karena pengunjung tidak akan datang apabila negara tujuan tidak memberikan jaminan keamanan serta sarana dan prasarana umum yang sesuai dengan standart. Sangat disayangkan bahwa Indonesia yang sangat kaya akan kekayaan alam dan budaya tidak didukung dengan masyarakat yang patuh terhadap hukum.
  
        Berbeda halnya dengan di Little India, kawasan ini menyajikan surga belanja parfum dan coklat. Hampir di sepanjang jalan di Little India saya bisa menemukan gerai-gerai toko penjual parfum. Oh ya, kawasan ini juga menjajakan beragam makanan vegetarian. Karena masyarakat keturunan India yang tinggal dikawasan ini memiliki keyakinan untuk tidak mengkonsumsi daging. Sekali lagi, beda daerah, beda budaya. Jadilah bijaksana dalam menilai hal ini. Selain itu, saya menemukan banyak sekali toko perhiasan di pinggir jalan kawasan Little India.
Mustafa Centre
Yuk, dipilih-dipilih
Beragam Cokelat di Mustafa Centre

    Yang paling menarik dari kawasan Little India adalah Mustafa Centre. Sebenarnya tempat ini mirip toserba yang ada di Indonesia, hanya saja Mustafa Centre menyediakan beragam merk cokelat dengan harga yang relatif murah. Nggak heran bagi wisatawan penggemar cokelat selalu datang ke tempat ini untuk membeli cokelat sebagai oleh-oleh ataupun untuk dikonsumsi sendiri.





















    


Saya sedang beruntung, karena pada tanggal 23 Oktober 2013 lalu masyarakat Hindu di Little India sedang merayakan Hari Raya Galungan. Mereka menyebutnya dengan “Deepavali”. Saya pun berkesempatan secara langsung menyaksikan pelaksanaan upacara kegamaan di Pura Sri Veeramakaliamman oleh para pemeluk agama Hindu dan para Pendeta. Terus terang upacara keagamaan itu sama persis dengan yang pernah saya tonton di film-film India. Ada rangkaian bunga, api, juga buah pisang sebagai persembahan.


Perayaan Deepavali di Pura Sri Veeramakaliamman


Baca selengkapnya